Halo.

Rabu, jam 2 siang, tepatnya tadi siang, seperti biasa saya kuliah Teori Sosiologi bersama Mba Eri tersayang. Salah satu dari 2 (dua) kuliah yang saya tunggu-tunggu, jangan terkejut jangan terperangah kalau yang satunya lagi itu kuliah Statistik Sosial, yang mungkin beberapa dari teman-teman adalah salah satu kuliah yang tidak ditunggu-tunggu hehhehe. “Tak kenal maka tak sayang”, ketika saya merasakan kegundahan (aseeekk) di kelas ini, anda tahu apa yang saya lakukan? Saya memaksa diri saya memahami kuliah ini, dan bahkan saya sengaja meng-google dosen saya, Thamrin Amal Tomagola, melihat latar belakangnya. And you know what? It actually really works! Saya jadi semakin semangat belajar statsos! Yah mungkin ini bisa jadi tips-tips yah, menyenangi kuliah yang dibenci.

Tapi sejujurnya, post saya kali ini bukan mengenai ini. Tadi pas lagi mandi (Entah kenapa saat-saat mandi, pikiran-pikiran ajaib sering muncul. Ajaib maksudnya adalah pikiran-pikiran, yaahhh akademis gitu hahahaha karena ajaib bisa muncul di otak gue beginian), saya mengingat-ngingat kuliah tesos hari ini. Saya menganggap kuliah kali ini, yaitu mengenai Durkheim, lebih menarik dari kuliah Marx. Kenapa? Karena jujur saya orang yang sangat berusaha berfikir rasional atas semua hal. Semua, maksudnya SEMUA loh. Bahkan dalam percintaan pun saya berusaha serasional mungkin (makanya ga dapet-dapet pacar kayanya nih hahahaha). Terus tadi pagi juga pas kuliah DDMPS belajar tentang objektifitas, rasanya otak saya berputar dan berfikir, disini nih letak pandangan gue (wuaseekkkk). Tapi tapi tapi saya belum berani mengatakan bahwa saya seorang positivis, yah namanya juga masih belajar. Belum belajar semuanya, tapi sekarang di otak saya terbentuk bahwa saya menyetujui apa kata mas Durkheim. Bahwa fakta sosial adalah sesuatu yang dapat dikuantifikasikan, kalo ga bisa ya bukan. Ya ngga? Oke, banyak yang ga setuju mungkin. Tapi saya juga ga akan menjelaskan kenapa, karena sejauh ini saya belum terfikir sesuatu alasan kenapa saya setuju, tapi istilahnya hanya “terotak” bahwa saya cenderung ke arah positivis ini.

Sesuatu yang menarik dari kuliah hari ini adalah mengenai pembahasan mba Eri tentang banyak hal yang tidak bisa dijelaskan secara rasional, apalagi di Indonesia. Contohnya banyak, tentang fenomena kesurupan dimana-mana. Atau tentang bagaimana Mbah Marijan bisa dengan santai bilang gunung kaga mau meletus, trus ternyata beneran ga mau meletus padahal BMG jelas-jelas bilang itu bakal meletus. Apa yang terjadi? Bagaimana bisa kita menjelaskan hal-hal seperti ini dengan penjelasan ilmiah yang rasional?

Nah jadi pas mandi tadi, tiba-tiba aja saya keinget sama ada yang namanya Ghost Hunters. Itu acara di Star World yang lumayan sering saya kebetulan tonton kalo lagi fitness, ada yang tahu? Di acara ini, fyi, mereka mengejar hantu. Yah namanya juga ghost hunters ya, ga mungkin ngejer maling. Tapi cara mereka bisa dibilang lebih canggih gitu dari kita, mereka pake alat pendeteksi gitu, jadi ruang digelapin trus ntar kalo ada “penampakan” alat pendeteksinya itu bisa bunyi-bunyi kalo ada “zat” atau hantu yang mendekat. Disini saya berfikir, ternyata pelan-pelan rasionalitas ini bisa membuktikan bahwa semua hal memang bisa dijelaskan dengan ilmiah, memang belum sekarang, tapi perlahan pasti bisa. Kita tunggu saja kapan. Mungkin positivis tidak bisa menjelaskan proses terjadinya sesuatu fakta, tapi disini saya berbicara soal penjelasan atas sesuatu, bukan proses terjadinya. Itu aja sih heheheh.

Yah masih banyak kurangnya, salahnya, SOTOYNYA tulisan saya ini. Tapi ini sekedar “singing thoughts in mind” kok, hanya terlintas saja. Terima kasih yang membaca. Ciao.