Posted by
Pradhivi A. B. Moningka
In:
Michael Jackson
Memandang Michael Jackson: Butuh Lebih dari Sekedar Mata Telanjang #1
Kali ini saya ingin menulis tentang idola saya teramat-sangat, Michael J. Jackson. Maksudnya bukan nulis tentang biografinya gitu, tapi lebih kepada kenapa saya mengidolakan sosok misterius ini. Mungkin beberapa orang sadar kalau beberapa waktu ini saya agak bisa dibilang terobsesi kepada MJ. Yah saya mengakui, saya bukan lah fans MJ dalam waktu yang lama. Saya mengidolakannya mungkin hanya beberapa tahun belakangan, tapi ya sebatas mendengarkan lagunya, atau sesekali mencari informasi tentangnya di internet. Yah sebatas itu lah. Tapi entah kenapa, setelah dia meninggal, mungkin saya terikut arus, rasa mencintai seorang MJ mulai menggebu-gebu. Setiap albumnya yg saya belum punya saya beli, video-video di youtube saya download, kemudian juga DVD MJ yang banyak beredar juga saya beli. Tapi please, sebagai fans sejati, dengan bangga saya nyatakan, saya tidak pernah menyentuh bajakan.
Kemudian ternyata, rasa itu tumbuh lebih besar lagi setelah saya menonton This is It. Yang saya rasa adalah film dokumenter terbaik sepanjang masa, satu-satunya film yang sepanjang pemutarannya saya terus bernyanyi-nyanyi kecil. Ketika pertama kali nonton, bersama teman kuliah, saya kagum setengah mati. Kedua kali, bersama mama, masih tidak bosan. Ketiga, sendirian, makin ingin nonton lagi. Keempat, sendirian, adalah puncak kepuasan saya. Walaupun saya masih berencana menonton kembali 1 atau 2 kali lagi. Banyak yang bilang saya freak soal ini, tapi percayalah ketika kalian benar-benar tahu dimana letak keindahan seorang Michael Jackson, pasti kalian bisa maklum. Saya tidak perduli dengan operasi-operasi tubuhnya, kasus yang dituduhkan kepadanya, kisah hidupnya, atau tindakan-tindakan gila yang pernah dilakukannya.
Butuh lebih dari sekedar mata telanjang untuk melihat seorang MJ, diperlukan pemahaman yang lebih dalam dari mengetahui sejarah hidupnya, tapi pandanglah dia secara objektif (kalau dalam sosiologi). Pandang dia sebagaimana dia memandang dunia. Memang dia sudah tidak ada, tapi karyanya kan tidak pernah hilang. Lihat lirik lagunya, pesan-pesan yang tersirat di dalam sana lebih dari sekedar lagu komersial yang banyak beredar di jaman sekarang. Bandingkan lirik Man in the Mirror, “See the kids in the street with not enough to eat. Who am I, to be blind? Pretending not to see their needs” dengan lirik lagu, siapa misalnya? Hmm Katy Perry mungkin, “I kissed a girl and I liked it”. Terlihat jelas kan perbedaannya? Artis mana yang lebih menggunakan ketenarannya untuk menyebarkan sesuatu yang baik. Kemudian, MJ bukan sekedar artis latah yang menggunakan isu sosial untuk menambah kekayaannya. Bukan seperti artis Indonesia yang ketika lebaran berbondong-bondong membuat lagu relijius, kenapa harus lebaran? Ketika anda ingin membuat lagu relijius, buatlah. Tidak harus menunggu pasar untuk mendesak anda. Dia adalah sosok yang menyerahkan dirinya kepada lingkungannya.
Kemudian ternyata, rasa itu tumbuh lebih besar lagi setelah saya menonton This is It. Yang saya rasa adalah film dokumenter terbaik sepanjang masa, satu-satunya film yang sepanjang pemutarannya saya terus bernyanyi-nyanyi kecil. Ketika pertama kali nonton, bersama teman kuliah, saya kagum setengah mati. Kedua kali, bersama mama, masih tidak bosan. Ketiga, sendirian, makin ingin nonton lagi. Keempat, sendirian, adalah puncak kepuasan saya. Walaupun saya masih berencana menonton kembali 1 atau 2 kali lagi. Banyak yang bilang saya freak soal ini, tapi percayalah ketika kalian benar-benar tahu dimana letak keindahan seorang Michael Jackson, pasti kalian bisa maklum. Saya tidak perduli dengan operasi-operasi tubuhnya, kasus yang dituduhkan kepadanya, kisah hidupnya, atau tindakan-tindakan gila yang pernah dilakukannya.
Butuh lebih dari sekedar mata telanjang untuk melihat seorang MJ, diperlukan pemahaman yang lebih dalam dari mengetahui sejarah hidupnya, tapi pandanglah dia secara objektif (kalau dalam sosiologi). Pandang dia sebagaimana dia memandang dunia. Memang dia sudah tidak ada, tapi karyanya kan tidak pernah hilang. Lihat lirik lagunya, pesan-pesan yang tersirat di dalam sana lebih dari sekedar lagu komersial yang banyak beredar di jaman sekarang. Bandingkan lirik Man in the Mirror, “See the kids in the street with not enough to eat. Who am I, to be blind? Pretending not to see their needs” dengan lirik lagu, siapa misalnya? Hmm Katy Perry mungkin, “I kissed a girl and I liked it”. Terlihat jelas kan perbedaannya? Artis mana yang lebih menggunakan ketenarannya untuk menyebarkan sesuatu yang baik. Kemudian, MJ bukan sekedar artis latah yang menggunakan isu sosial untuk menambah kekayaannya. Bukan seperti artis Indonesia yang ketika lebaran berbondong-bondong membuat lagu relijius, kenapa harus lebaran? Ketika anda ingin membuat lagu relijius, buatlah. Tidak harus menunggu pasar untuk mendesak anda. Dia adalah sosok yang menyerahkan dirinya kepada lingkungannya.

Ini hanyalah segelintir kecil dari alasan saya mencintai MJ, hanya dari bagaimana ia melihat dunia dan menggunakan ketenarannya.
This entry was posted on 9:49 PM
and is filed under
Michael Jackson
.
You can follow any responses to this entry through
the RSS 2.0 feed.
You can leave a response,
or trackback from your own site.
Posted on
-
2 Comments
Subscribe to:
Post Comments (Atom)













2 comments:
ayo pesen wallpaper buat kamar lo hahahah kan tajir
hahahhahha bayangin dong ada tampang MJ segede dinding di kamar gue apa ga meriah banget tuh
Post a Comment